Karya Sastra Epik Melayu

Hikayat
Hang Tuah

Kisah kepahlawanan, kesetiaan, dan fitnah di tanah Bintan.

Bagian Pertama

Mimpi Sang Ayah

Suatu hari, terdapat pasangan yang bernama Hang Mahmud dan Dang Merdu yang dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Hang Tuah. Keluarga itu tinggal pada suatu desa yang disebut dengan Sungai Duyung. Di daerah tersebut, seluruh warga mengetahui bahwasanya Raja Bintan yang merupakan pemimpin wilayah itu dikenal baik dan juga disegani oleh segenap rakyatnya.

Mahmud akhirnya berkeluh kesah di depan istrinya tersebut untuk dapat diizinkan mengadu nasibnya di Bintan, pikirnya siapa tahu apabila ia disana nasibnya akan baik. Dan setelah ia berdiskusi dengan sang istri, ia pun memantapkan niatnya.

Tiba malamnya Mahmud bermimpi terdapat bulan yang turun dari langit dan kemudian bersinar di atas kepala anaknya, yakni Hang Tuah. Mahmud pun terbangun dari tidurnya dan kemudian menemui anaknya dan melihat anaknya memancarkan bau yang sangat wangi. Dan pada pagi hari, keluarga itu akan mengadakan acara syukuran.

Bagian Kedua

Keberanian di Ujung Kapak

Beberapa hari kemudian, Hang Tuah ikut membantu ayahnya untuk membelah sejumlah kayu yang akan dijadikan persediaan. Dan tepat pada saat itu, datanglah sejumlah pemberontak yang berniat untuk membunuh orang yang ada di desa tersebut.

Warga desa pun berlarian dengan panik untuk menyelamatkan dirinya, akan tetapi Hang Tuah masih saja tetap sibuk untuk membelah kayu. Dari kejauhan, ibu dari Hang Tuah berteriak dengan panik dan menyuruhnya untuk pergi agar menyelamatkan diri. Tetapi, sudah terlambat dikarenakan pemberontak tersebut telah berada tepat di depannya.

Dan para pemberontak itu mencoba untuk menusuk perut Hang Tuah dengan keris, tetapi Hang Tuah berhasil menghindarinya. Kemudian ketika terdapat kesempatan, Hang Tuah mengayunkan kapak untuk membelah kayunya tepat di atas kepala pemberontak itu dan kemudian pemberontak itu pun mati.

Bagian Ketiga

Fitnah di Balik Istana

Berita Hang Tuah yang berhasil mengalahkan seorang pemberontak pun telah tersebar di seluruh negeri. Ia pun lalu diundang ke dalam istana oleh raja. Untuk suatu bentuk terimakasihnya, raja sering mengundangnya untuk dapat ke istana dan kemudian menjadi seseorang yang dipercayai oleh raja.

Hal itu pasti membuat sejumlah pegawai dan juga Tumenggung merasa iri terhadapnya. Orang-orang itu kemudian bekerjasama dan kemudian memfitnah Hang Tuah. Seorang Tumenggung mengatakan kepada raja bahwasanya Hang Tuah sudah merencanakan pengkhianatannya terhadap kerajaan dan ia juga tengah mendekati seorang gadis yang ada di istana yang bernama Dang Setia.

Setelah mendengar itu, Raja kemudian menjadi marah dan kemudian menyuruh sejumlah pengawalnya untuk membunuh Hang Tuah. Tetapi, Allah melindunginya yang tak bersalah itu sehingga pengawal tak bisa membunuh Hang Tuah. Dikarenakan tak mau meninggalkan masalah lainnya, akhirnya Hang Tuah pun memilih untuk mengasingkan dirinya ke dalam hutan.

Tamat